About Me

Rabu, 13 Agustus 2014

Esai Budaya

Bukan Eksekusi Mati

            Bumi merupakan suatu tempat yang penuh akan hiburan dan tawa manusia yang berdiri di atasnya. Setiap saat dan setiap waktu kita selalu merasaan hiburan itu baik secara langsung maupun tidak. Salah satu yang dapat menjadi hiburan adalah budaya, dimana manusia merupakan suatu adat istiadat yang senantiasa akan selalu dijaga dan dilestarikan oleh orang yang menciptakannya maupun orang-orang yang telah diberi wasiat untuk melestarikan budaya itu, sampai budaya tersebut memberikan manfaatnya bagi masyarakat sekitar, dan tentunya mampu memberikan kebanggan tersendiri bagi mereka yang dengan tidak sengaja iut tersorot oleh budaya tersebut. Budaya, selain mengandung hiburan juga mengandung nilai pendidikan yang mampu memberikan inspirasi-inspirasi bagi siapapun yang telah menikmati budaya tersebut.

            Di Indonesia, telah dikenal beribu-ribu budaya yang mampu mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Dari Indonesia yang tidak punya apa-apa sampai menjadi bangsa yang sangat kaya akan budaya yang berkualtas dan tentunya sangat saying untuk dilewatkan mata. Dari sekian banyak budaya yang ada di Indonesia, maka sebagai bangsa yang tentunya bangga akn budayanya, seharusnya kita tahu tentang budaya negara ita sendiri. Terlebih lagi budaya di daerah yang selama ini kita tempati. Sebagai contoh, sebagai masyarakat Jawa Timur, maka keseharusan kita adalah mengetahui budaya masyarakat Jawa Timur seperti tari topeng, jaranan, budaya bahasa jawa yang baik dan lain sebagainya. Dengan sikap yang demikian ini, maka secara tidak langsung kita telah berpartisipasi dalam melestarikan budaya yang telah susah payah diciptakan oleh leluhur kita.

            Seperti yang kita ketahui bahwa budaya yang ada di Jawa Timur merupakan sebuah budaya yang sangat mencerminkan sifat dan karakter masyarakat Jawa Timur, yaitu selalu tegas berwibawa dan pantang menyerah, juga selalu taat, patuh dan andhap ashor pada orang yang lebih tua sebagaimana perwujudan dari bahasa Jawa Kromo. Namun kini semua telah berbalik arah, berputar 180 derajat, masyarakat Jawa Timur bukan lagi manusia yang tegas, melainkan lebih bersifat kasar, arak-arakan dan anarkis. Pemuda Jawa Timur sudah tidak pernah menggunakan bahasa jawa yang terkesan halus da andhap ashor, sekarang mereka lebih mengenal bahasa gaul, bahasa alay atau bahkan kerap kali mereka menggunakan bahasa jawa yang terdengar sangat kasar dan tidak patut untuk diucapkan.

            Namun untung masih ada masyarakat yang berani melestarikan budaya masyarakat Jawa Timur yang benar-benar riil. Bahkan dengan adanya mereka kita dapat memeroleh pendidikan moral dan etika yang tentu saja saat ini diperlukan untuk para pemuda yang sudah terkikis habis rasa bangganya terhadap budaya mereka sendiri. Tentu saja sikap berani mereka bisa menjadi tembakan keras untuk pembangkit rasa bangga pemuda Jawa Timur yang telah luluh lantah sikap bangsanya.

            Melihat dampak negatif yang ditimbulkan suatu budaya, memang ini adalah suatu kewajaran, karena seperti yang kita tahu bahwa semua yang diciptakan oleh manusia merupakan sesuatu yang jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, jika suatu budaya memang dilahirkan dengan satu kepincangan yang nyata, maka hendaknya kita mencari cara supaya kepincangan tersebut tidak menjadi halauan dalam mencapai sebuah tujuan yang baik. Dan semoga dengan tembakan keras para pemuda yang bertanggung jawab tersebut, diharapkan budaya masyarakat Jawa Timur mampu bangkit dari keterpurukan dan tidak sampai tereksekusi mati oleh negara Asing. Amiiiinn…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar